Berita : PCIM Malaysia


Pengajian Muhammadiyah Malaysia: Inilah Ciri Islam Berkemajuan

Jum'at, 02-06-2012
 

Kuala Lumpur- Sebagai organisasi dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar, Muhammadiyah telah mendapat sambutan yang baik dan hangat dari masyarakat luas, baik di dalam maupun di luar negeri.  Islam berkemajuan yang menjadi ciri gerakan persyarikatan yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini telah diakui oleh berbagai kalangan, termasuk orang yang paling berpengaruh di Indonesia, seperti sang proklamator, Ir. Soekarno.

 

“Ciri gerakan Muhammadiyah ini diakui presiden pertama Republik Indonesia,  bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam yang progresif, yaitu berkemajuan.” Demikian ungkapan yang disampaikan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir pada pengajian lintas profesi, Sabtu (2/6/2012), Setapak Kuala Lumpur.

 

Berbeda dengan biasanya, pengajian lintas profesi bulan ini menghadirkan  muballig dari tanah air. Dr. Haedar datang ke Kuala Lumpur tidak sendirian, tapi ditemani oleh sang  isteri tercintanya, Dr. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si., Ketua Umum PP Aisyiyah periode 2010-2015.

 

Kedua pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah ini sengaja diundang ke negeri Jiran oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia dalam rangka acara upgrading bagi para pengurus di setiap Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) yang ada di Kuala Lumpur, yaitu PRIM Kg. Baru, PRIM Bandar Baru Sunway, PRIM KL Sentral dan perwakilan dari Kelang Lama sebagai bakal PRIM baru yang akan  segera didirikan. Selain itu,  acara upgrading ini juga disertai oleh pengurus Pimpinan Ranting Istimewa Aisyiyah (PRIA) yang sudah dibentuk belum lama ini, yaitu ranting istimewa  Aisyiyah yang pertama kali berdiri di luar negeri.

 

Selama keberadaannya di Malaysia,  terlebih dahulu Dr. Haedar dijadwalkan untuk mengisi pengajian Lintas Profesi,yaitu salah satu forum pengajian yang menjadi garapan Majlis Dakwah dan Tarjih PCIM Malaysia. Peserta pengajian berasal dari latar belakang profesi yang berbeda, mulai dari kalangan TKI, pelajar, dosen dan ekspatriat yang bekerja sebagai tenaga ahli di berbagai bidang seperti tenaga ahli perminyakan Petronas, perbankan, komunikasi, dan kalangan pengusaha di Malaysia.

 

Mengawali ceramahnya, Dr. Haedar menyampaikan rasa syukur atas kenikmatan dan kegembiraan yang beliau rasakan. Beliau gembira dan termotivasi ketika melihat semangat pergerakan dakwah Islam yang ditunjukan oleh pengurus dan warga Muhammadiyah baik di dalam atau pun di luar negeri. Termasuk kiprah pengurus dan warga Muhammadiyah di Malaysia yang nampak aktif dengan berbagai kegiatan dakwah dan sosial kemasyarakatan.

 

“Jalinan kerjasama yang telah dibangun antara Muhammadiyah dan organisasi-organaisasi Islam (NGO) di Malaysia merupakan suatu prestasi yang mesti terus dijaga dan ditingkatkan, seperti kerjasama antara Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Malaysia  dan Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan  (JAWI) yang berjaya mengadakan sebuah acara seminar  yang bertema: “Wanita dan Dakwah: Pelaburan Dunia Akhirat” pada hari Sabtu, 1 Juni 2012 di Dewan Hadhari, Pusat Islam Malaysia, Kuala Lumpur,” Harapnya.

 

 “Di samping menjaga konsistensi, pengurus dan warga Muhammadiyah dituntut untuk senantiasa ikhlas, semangat, sabar  dan gembira dalam melakukan berbagai aktivitas dakwah Islam amar makruf nahi munkar.” Tuturnya.

 

Berkaitan dengan manhaj dakwah, beliau juga mengingatkan para peserta pengajian supaya memperhatikan cara-cara dakwah yang santun dan mulia yang sudah diajarkan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh RasulNya, baginda Muhammad SAW.  “Dakwah bil hikmah (ilmu dan kebijaksanaan) dan mauizhoh hasanah (contoh yang baik) hendaklah selalu menjadi karakter dakwah Muhammadiyah.” Serunya.   

 

Dalam kesempatan ini, Ketua PP Muhammadiyah yang produktif menerbitkan buku ini memaparkan  pengalaman perjalanan dakwahnya di tanah air, belum lama ini. Seperti perjalanan beliau ke Papua Barat, tepatnya ibu kota Sorong dan Manokwari, Ternate, Maluku Utara dan Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.

 

“Geliat dakwah Islam yang menjadi konsentrasi utama persyarikatan Muhamadiyah di Wilayah Indonesia bagian Timur ini ternyata cukup menarik dan menggembirakan yang ditandai dengan menjamurnya berbagai  amal usaha Muhammadiyah, khususnya di sektor pendidikan. Dengan berbagai tantangan dan liku-likunya, kini Muhammadiyah di Kota Sorong sudah memiliki perguruan tinggi, di antaranya adalah Universitas Muhammadiyah Sorong , di kota Sorong yang kini memiliki mahasiswa sebanyak 5000 mahasiswa, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah di Kabupaten Sorong yang mahasiswanya berjumlah 2500 mahasiswa. Sedangkan di Manokwari, terdapat Sekolah Tinggi Ilmu pendidikan Muhammadiyah yang mahasiswanya mencapai sekitar 2000 mahasiswa,” bebernya.

 

Lebih lanjut, beliau juga menceritakan keberhasilan Universitas Muhammadiyah Ternate, Maluku Utara yang saat ini usianya sudah menginjak 9 tahun dan sudah memiliki mahasiswa sebanyak 10. 000. Adalagi Universitas Muhammadiyah Buton, Sulawesi Tenggara, di mana mahasiswanya berjumlah sekitar 6000. “Keempat perguruan tinggi ini merupakan di antara 157 perguruan tinggi Muhammadiyah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” Tegasnya.

 

Kiprah dan gerakan dakwah Muhammadiyah seperti ini mendapatkan sambutan dari kalangan masyarakat luas, termasuk pihak pemerintah. “Gubernur Papua Barat dan Walikota Manokwari  manaruh kepercayaan kepada Muhammadiyah sehingga mereka tidak ragu-ragu untuk membangunkan gedung dakwah Muhammadiyah di Sorong dan Manokwari.” Ungkapnya.

 

Menurutnya, amal usaha dan gerakan al-Maun yang sudah ditekuni Muhammmadiyah sejak pertama kali didirikan merupakan salah satu ciri gerakan dakwah Islam yang melekat di tubuh Muhammadiyah, yaitu dakwah bil hal (amal kongkrit) yang secara langsung dapat memberikan solusi dan manfaat bagi keperluan masyarakat luas.

 

Oleh sebab itulah, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam berkemajuan yang ditandai dengan gerakan pemurnian tauhid, pemahaman al-Qur’an dan Sunnah secara mendalam, melembagakan amal sholeh yang fungsional dan solutif, berorientasi kekinian dan masa depan, bersikap toleran, dan bekerjasama. (Imron Baehaqi)

 

 

Berita Terkait: