cool hit counter

PCIM Malaysia - Persyarikatan Muhammadiyah

PCIM Malaysia
.: Home > Artikel

Homepage

Ka’bah dan Kehidupan

.: Home > Artikel > Pimpinan Pusat
15 November 2011 19:47 WIB
Dibaca: 2657
Penulis : M. Arifin Ismail MA, Ketua PCIM Malaysia

Allah menjadikan Ka’bah, bangunan yang mulia sebagai  pusat ibadah bagi manusia “

(QS.AlMaidah : 97)

 

Dalam melakukan ibadah haji umat Islam  melakukan thawaf, yaitu ibadah dengan mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Ka’bah adalah kiblat umat Islam dalam beribadah yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram di kota Makkah. Dengan thawaf berarti umat Islam melakukan ibadah di tempat pertama kali proses ibadah dilakukan.  Dalam sejarah perjalanan manusia, Ka’bah adalah tempat beribadah kepada Allah yang pertama kali dibangun oleh manusia.Dalam al Quran dinyatakan : ” Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibina untuk tempat beribadah bagi manusia adalah “Bakkah “( tapak  Baitullah) yang terdapat di kota Makkah yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi umat manusia. Disana terdapat tanda yang jelas, yaitu Maqam Ibrahim ( Surah Ali Imran : 96-97 ).

 

Muhammad bin Ishaq menyatakan : “ telah disampaikan (oleh Nabi) kepada kami bahwasanya Allah telah memerintahkan Adam untuk berjalan menuju arah kota Makkah, sehingga Adam berjalan terus sehingga sampai di kotaMakah, setelah itu Allah memerintahkan Adam untuk membangun tempat beribadah , maka Adam membangun Ka;bah dan melakukan thawaf di sekelilingnya “

 

Setelah banjir nabi Nuh, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk membangun kembali bangunan tersebut di tapak Ka;bah yang pertama kali tersebut, sebagaimana dinyatakan dalam al Quran : “ Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Ismail membangun kembali tiang-tiang Ka’bah  dan berdoa : Ya Allah terimalah amal kami ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui ( QS. AlBaqarah : 127 )

 

Ka’bah adalah batu yang disusun berbentuk kotak yang dibina untuk tempat beribadah kepada Allah terletak di tengah Masjidil Haram. Umat islam melakukan thawaf, mengelilingi Ka’bah dan mengucup Hajar al Aswad ( batu hitam di sudut Ka’bah ) bukan bermakna memuja dan  menyembah batu. Ka’bah dan Hajar al Aswad tersebut adalah batu sebagaimana batu biasa yang tidak dapat memberi manfaat dan mudharat bagi kehidupan. Kita melakukan thawaf dan mengecup batu tersebut adalah kerana diperintah oleh Allah dan mengikuti sunnah baginda Rasulullah. Itulah sebabnya  Umar bin Khattab telah berkata ; ‘ Wahai batu  Hajarul aswad , engkau adalah batu sebagaimana batu yang lain. Kalau bukan disebabkan oleh rasulullah yang telah mengucupmu, maka aku tidak akan mengucupmu “. Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa mengucup batu bukan kerana memuja dan kemuliaan batu atau untuk menyembah batu, tetapi disebabkan untuk  mengikuti sunnah rasulullah saw.

 

Dalam ibadah haji banyak terdapat lambang-lambang untuk mendidik manusia dalam menghadapi kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari , manusia juga banyak memakai lambang. Seperti bendera negara adalah sepotong kain yang sebenarnya sama dengan kain yang lain. Tetapi nilai bendera kebangsaan tidaklah sama dengan kain yang lain, karena bendera tersebut merupakan lambang kehormatan suatu bangsa dan negara. Demikian juga dengan Ka’bah dan Hajar  al Aswad. Ka’bah dan Hajar al Aswad adalah lambang dalam beribadah kepada Allah. Hal ini dinyayakan dalam alQuran : “ Allah telah menjadikan Ka’bah itu sebagai pusat beribadah bagi umat manusia “ ( Surah al Maidah : 97 ).

Thawaf melambangkan nilai-nilai tauhid. Dalam thawaf manusia diarahkan agar selalu mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana dekatnya badan dengan ka’bah. Mendekatkan diri kepada Allah bukan hanya satu kali saja, tetapi berulang kali dan setiap waktu dalam kehidupan, sebagaimana dilambangkan dalam ibadah thawaf yang dilakukan tujuh kali putaran. Ini melambangkan agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Allah selama tujuh hari dalam seminggu, bermakna manusia harus dapat mendekatkan diri kepada Alah setiap saat dan setiap hari dalam kehidupan.

 

Thawaf tersebut dilakukan dengan penuh penghayatan akan kehadiran Allah, berzikir , berdoa dan memohon ampun kepada-Nya. Ini melambangkan agar setiap manusia harus selalu beribadah kepada Allah dengan merasakan kehadiran Allah dalam setiap hari, mengingat kepada-Nya, berzikir, berdoa dan memohon ampun kepada-Nya. Tidal ada hari yang lepas daripada ibadah, zikir, berdoa dan memohon ampun. Inilah kehidupan beribadah seorang muslim. Maksud thawaf ini sesuai dengan lafadz doa iftitah yang dilakukan dalam shalat “ inna shalaati wa nusuki wamahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ‘alamin “,  sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan seluriuh alam “.

 

Dalam thawaf, kita diwajibkan untuk mengucup Batu Hitam  Hajar al Aswad  atau dengan cara memberi isyarat  lambaian tangan ( istislam ) kepadanya, sebagaimana yang dilakukan oleh baginda Rasulullah. Ini bermakna dalam melaksanakan ibadah kepada Allah, umat Islam harus mengikuti sunnah dan contoh yang dilakukan oleh baginda Rasulullah. Mengucup batu hitam tersebut juga merupakan lambang bahwa ibadah harus dilakukan dengan penuh kecintaan kepada Allah subhana wataala. Ibadah dilakukan bukan untuk tujuan dunia, bukan tujuan sementara tetapi hanya dengan tujuan mengharapkan keridhaan Allah dengan penuh rasa cinta kepada-Nya.

 

Dengan melakukan thawaf, kita harus dapat bertanya kepada diri sendiri sudahkan aku seluruh aktiviti kita dalam kehidupan dilakukan dalam tujuh hari dalam seminggu sebagai ibadah kepada Allah, sebagaimana thawaf yang dilakukan sebanyak tujuh kali ini. Sudahkah aku dapat mendekatkan diri, berzikir kepada-Nya dengan penuh kecintaan dan  mengharapkan keridhaan-Nya.? Apakah pelaksanan aktivitas kehidupan dan ibadah yang kulakukan selama ini masih disertai dengan riya, dan tujuan mencari kesenangan sementara.? Sudahkan hidupku seluruhnya merupakan wujud daripada ibadah kepada Allah atau hanya untuk mencari kepuasan dunia dan hawa nafsu..? Apakah kerja yang dilakukan, segala aktiviti yang dilaksanakan dalam kehidupan ini bertujuan untuk mencari ridha Allah ? Seorang pemikir Islam dari pakistan, Muhammad Iqbal dalam syairnya berkata : “ Rahasia Ka’bah adalah persatuan. Kerana seluruh manusia menyatu dalam putaran. Untuk mengabdi dan menyembah Tuhan. Sebab agama hanya akan menjelma dalam dua cara, yaitu penyerahan diri dalam beribadah dengan menghayati  kebesaran Tuhan di setiap saat “.

 

Imam Ghazali dalam menjelaskan bahwa thawaf itu laksana shalat. Oleh sebab itu hadirkanlah hati ke dalam hati rasa keagungan Allah, akut dan harap, cinta dan kasih kepada Allah subhana wataala. Ketahuilah bahwa dengan thawaf itu seakan-akan orang yang thawaf seperti malaikat-malaikat yang mendekati Allah , mengelilingi Arsy. Janganlah seseorang menyangka bahwa yang berthawaf itu hanya badannya saja, tetapi thawaflah dengan hati yang selalu mengingat kepada Allah, Tuhan yang memilkiki Ka’bah tersebut. Sehingga seseorang itu tidak memulai sesuatu kecuali dengan mengingat Allah dan dengan nikmat dan kekuasaan daripadaNya. De,ikian juga seseorang itu tidak mengakhiri sesuatu pekerjaan kecuali dengan rahmat, kekuasaan dan keagunganNya. Dengan thawaf dilakukan agar seseorang merasakan bahwa tiada gerak langkah, tiada perbuatan, yang dilakukan kecuali semuanya ditujukan hanya untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan hanya untuk mencari keridhaanNya.

 

Setelah melaksanakan thawaf sebagai lambang ibadah dan akidah, umat islam diwajibkan melaksanakan ibadah Sa’ie, yaitu berlari anak antara bukit safa dan Marwa sebanyak tujuh kali. Sa’ie, berlari antara dua bukit  adalah pendidikan dan pelajaran agar seorang muslim harus dapat bekerja keras dengan sepenuh tenaga untuk menaklukkan dunia , sebagaimana dilambangkan dengan cara berlari menaklukkan dua bukit Safa dan Marwa. Tugas manusia di dunia adalah menjadi hamba Allah dan khalifah Allah. Hamda Allah dengan dekat kepada Allah, dan Khalifah Alah dengan cara menaklukkan dunia. Itulah sebabnya setelah manusia diwajibkan thawaf, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan ibadah, sebagai sikap yang dituntut dari seorang hamba Allah, maka umat manusia juga diwajibkan untuk bekerja dengan sepenuh tenaga untuk menaklukkan dunia, agar dapat mencapai kajayaan dalam kehidupan dunia, sebagai sikap yang dituntut dari seorang Khalifah Allah di muka dunia. Fa’tabiru Ya Ulil albab.(red: NlH)


Tags: PCIM , Cabang , Istimewa , KualaLumpur , Malaysia , Buletin , Kabah
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori : Buletin Jumat

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website