cool hit counter

PCIM Malaysia - Persyarikatan Muhammadiyah

PCIM Malaysia
.: Home > Artikel

Homepage

Kurban dan Isu Pendidikan

.: Home > Artikel > Pimpinan Pusat
15 Oktober 2014 12:28 WIB
Dibaca: 1416
Penulis : Sulton Kamal, Sekretaris Umum PCIM Malaysia

Pada perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini paling tidak ada dua isu yang hangat diperbincangkan masyarakat. Pertama; perbedaan penetapan 10 Dzul Hijjah antara pemerintah dan ormas keagamaan, kedua; ramainya perbincangan dalam dunia pendidikan, khususnya di Ibu kota tentang pelarangan penyembelihan hewan kurban pada sekolah-sekolah tingkat dasar (SD) di lingkungan dinas pendidikan DKI Jakarta.
 
Untuk kedua isu tersebut, yang pertama mungkin masyarakat sudah relatif terbiasa dan mafhum karena sudah sering mengalami kejadian yang sama pada perbedaan penetapan awal bulan Ramadhan maupun Idul Fitri 1 Syawal. Sedangkan yang kedua adalah isu yang relatif baru terjadi dan mengundang banyak komentar dan tanggapan dari berbagai pihak, sehingga perlu untuk dikritisi dengan bijaksana dan seperlunya.
 
Isu yang kedua ini dipicu karena adanya Instruksi Gubernur (Insgub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 67 Tahun 2014 tentang pengendalian penampungan dan pemotongan hewan dalam rangka menyambut Idul fitri dan Idul Adha Tahun 2014/1435 H, yang ditetapkan pada 17 Juli 2014 dan ditandatangani oleh Ahok selaku pelaksana tugas gubernur DKI Jakarta.
 
Kebijakan tersebut dikeluarkan dengan alasan banyaknya pihak sekolah yang khawatir pemotongan hewan kurban yang dipertotonkan pada anak-anak dapat mempengaruhi psikologis mereka dan memicu tindakan sadisme. Selain itu dari segi kesehatan, banyak yang khawatir anak-anak dapat terkena penyakit yang dibawa oleh hewan-hewan kurban.
 
Sebenarnya, sangat disayangkan sekali kenapa larangan seperti ini bisa muncul. Padahal selama ini praktik penyembelihan hewan kurban tidak berkorelasi langsung dengan apa-apa yang menjadi alasan dikeluarkannya instruksi seperti ini. 
 
Kesannya jadi seolah mengada-ada saja, kalaupun dipaksakan, belum ada studi yang bisa dijadikan pijakan bahwa penyembelihan kurban dapat memicu sadisme dan trauma berkepanjangan bagi siswa, selama ini fakta di lapangan mengatakan hampir sangat jarang terjadi untuk mengatakan tidak sama sekali.
 
Walaupun akhirnya dibantah dan menuai banyak tentangan dari kalangan masyarakat, khususnya dari pihak organisasi kemasyarakatan Islam dan lembaga-lembaga resmi terkait seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementrian Agama (Kemenag) dalam hal ini Direktur Pendidikan Madrasah. 
 
Tetapi bagaimanapun, nasi sudah menjadi bubur bahwa kejadian ini lahir sebagai product dari kebijakan pemerintah yang kurang hati-hati dengan perasaan yang ada di masyarakat, serta akibat kurangnya pemahaman pemimpin terhadap sebagian realitas rakyat yang dipimpinnya.
 
Dalam khazanah kepemimpinan Islam, mengingatkan kepada pemimpin itu hal yang lumprah bahkan menjadi wajib dan jihad apabila pemimpinnya sudah dikatagorikan dholim, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, al-Tarmizi, al-Nasai, Ibn Majah, dan Ahmad, dan hadisnya sahih : Afdholul jihaadi kalimatu ‘adl ‘inda sulthon jaair (Jihad yang utama adalah perkataan yang benar di sisi pemimpin yang dholim).
 
Jadi tidak perlu risih maupun segan apabila kita ingin menegur pemimpin yang salah, karena itu bagian dari menjalankan ajaran agama. Tentu, kita juga diajarkan untuk melakukannya dengan cara yang makruf atau baik, serta diiringi dengan niat untuk kemaslahatan bersama, Allah mengajarkan kita melalui al-Quran Surat Thoha ayat 44: Faquulaa lahu qoulan layyina la’allahu yatadzakkaru au yakhsya (Kemudian hendaklah kamu berkata kepadanya, dengan kata-kata yang lemah-lembut, semoga ia beringat atau takut).
 
Demikian juga dengan seorang pemimpin, sudah seharusnya dalam menjalankan kepemimpinannya hendaklah senantiasa mengutamakan kemaslahatan bagi masyarakat pada umumnya, sebagaimana kaidah fiqhiyah yang mengajarkan kepada kita: Tashorruful imam ‘alar ro’iyyati manuutun bil mashlahah (Kebijakan seorang pemimpin kepada rakyatnya hendaklah disesuaikan dengan kemashlahatan orang banyak).
 
Kurban Itu, Ya Ibadah Ya Untuk Mendidik
 
Perayaan ‘Idul Adha atau Hari Raya Kurban bagi umat Islam mempunyai kedudukan yang sangat berarti dan penting dalam melaksanakan sebagian ajaran agamanya, dan menjalankan perayaannya sesuai dengan sunah, sebagaimana yang dituntunkan oleh rosulullah adalah sebagian dari ibadah.
 
Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban yang umat Islam lakukan, tidak sama sekali dan jauh dari niatan untuk menyuguhkan praktik sadisme atau brutalisme atau pembantaian maupun kata-kata lain yang semakna dengan itu. 
 
Sebaliknya, praktik yang dilaksanakan oleh hampir sebagian besar umat Islam dalam penyembelihan hewan (Kurban ataupun untuk konsumsi harian) adalah semata mata dalam rangka menjalankan tuntunan ajaran agama dan beribadah kepada Allah SWT.
 
Semua kita tahu, bahwa tuntunan Ibadah kurban adalah pengejawantahan dari keikhlasan hamba untuk bertaqrrub (Mendekatkan diri) kepada tuhannya. Dalam sejarah Islam, kita mengenal syariat pelaksanaan kurban dari pengalaman kehidupan hamba-hamba Allah yang dikisahkan dalam al-Quran, diantaranya adalah kisah kedua anak Nabi Adam AS, Habil dan Qobil dalam rangka menjalankan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
 
Peristiwa tersebut diabadikan dalam Surat al-Ma’idah 27: Dan ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa”
 
Kemudian juga tentang kisah keikhlasan dan kesabaran, Nabiyullah Ibrahim AS dan putranya Ismail AS ketika mereka dan keluarganya diuji dengan ujian yang sangat berat oleh tuhannya, sebagaimana digambarkan dalam Surat as-Shoffaat 102-107: Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-samanya,(Ibrahim) berkata: “Hai anakku! sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (Untuk melaksanakan perintahNya), dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
 
Disamping kedua kisah tersebut, kaum muslimin menjalankan syariat kurban pun karena patuh dan ta’at atas perintah Allah melalui tuntunan rosulullah, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang sangat banyak yang telah dikarunikan oleh Allah kepada kita umat manusia, seperti yang diabadikan dalam surat al-Kautsar ayat 1-2: Sungguh Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (Sebagai Ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).
 
Adapun dalam praktik ibadah penyembelihan hewan kurban, rosulullah telah mengajarkan kepada umatnya sebaik-baik cara berkurban, yang kemudian terpelihara terus-menerus dari generasi ke generasi dan diamalkan oleh para pengikut ajarannya sampai sekarang.
 
Beliau memberikan tauladan dan edukasi kepada umat dengan menyembelih hewan kurbannya melalui tata cara yang dicontohkannya sendiri, diantaranya dengan menggunakan pisau setajam mungkin, menjauhkan mengasah pisau dari hewan kurban, membaringkan dengan lambung sebelah kiri sehingga menghadap ke arah kiblat, tidak memotong atau mematahkan leher, Menyebut nama Allah, berdoa dan bertakbir, serta berusaha agar hewan kurban dalam keadaan tenang.
 
Hal-hal seperti ini yang sudah selayaknya terus dimengerti dan diajarkan kepada anak-anak cucu kita dalam praktik penyembelihan hewan. Jangan sampai mereka malah tidak mengerti, tidak mau belajar dan tidak mau melaksanakan. Wal hasil mereka bisanya hanya menikmati saja tidak tahu bagaimana proses penyembelihan yang baik dan betul. 
 
Jangan sampai pula anak-anak kita kok malah mencemooh dengan mengatakan sebagai pembantaian maupun praktik sadisme, sedangkan pada waktu yang sama, secara tidak sadar mereka juga makan dan menikmati protein hewani. 
 
Generasi sekarang memang relatif sudah tidak lagi diajarkan ketrampilan praktis seumpama menyembelih hewan ternak, padahal leluhur kita seringkali mengajak anak atau cucunya untuk menyembelih (Ayam ataupun hewan ternak lainnya) ketika lebaran akan tiba. Praktik penyembelihan yang demikian, sejak dulu tidak ada yang mengatakan kejam dan menyakiti hewan, sehingga perlu dilakukan dengan cara yang lain.
 
Justru Rosulullah pun, pernah memerintahkan kepada anaknya Fatimah RA untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurbannya, beliau bersabda: “Wahai Fatimah bangkitlah dan saksikanlah hewan kurbanmu, sesungguhnya dosamu yang pernah kamu lakukan diampuni bersamaan dengan tetesan darah pertama dari darahnya yang mengalir, dan bacalah: ‘Inna shalatiy wa nusukiy wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘Aalamiin laa syariika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin’ “(HR. Al Baihaqi)
 
Sekali lagi proses penyembelihan hewan kurban (Dan hewan ternak) bukanlah praktik yang sadis dan tidak boleh disaksikan oleh anak-anak, justru prosesi seperti yang diajarkan oleh ajaran Islamlah, merupakan sebaik-baik tata cara penyembelihan hewan. 
 
Bahkan menurut penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Jerman: W. Schulze, H. Schultze-Petzold, A.S. Hazem, dan R. Gross, ternyata penyembelihan hewan dengan cara yang lazim sebagaimana dilakukan umat Islam, bisa menghilangkan rasa kesakitan bagi hewan yang disembelih. 
 
Dengan demikian, kita umat Islam tidak usah ragu dan bimbang lagi dalam melaksanakan praktik penyembelihan hewan kurban pada10 Dzulhijjah, atau tiga hari sesudahnya pada hari Tasyrik 11, 12 dan 13. Bahkan jangan sungkan untuk melibatkan anak-anak dan generasi muda dalam rangkaian prosesi perayaan Hari Raya Idul Adha dengan segala kegiatannya. Karena bagi umat muslim, itu semua adalah manifestasi peribadahan seorang hamba kepada tuhannya.
 
Disamping itu pelaksanaan Ibadah kurban juga mengandung pengajaran dan pendidikan, agar kita mampu memiliki kepekaan sosial kepada masyarakat yang kurang beruntung. Mewujudkan pribadi-pribadi yang religius, beriman, bertaqwa dan selalu gemar beramal sholeh. Inilah yang harus diwariskan kepada anak-anak kita melalui pengenalan ibadah kurban sejak dini. (Sltn) Tulisan ini pernah dimuat di inilah.com 6/10/2014
 

Tags: Kurban , PCIM , Muhammadiyah , Pendidikan , Malaysia
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website